Tragedi BATAN
Anda mungkin sudah mendengar mengenai ledakan gas di Lab Batan di Serpong. Hal ini -menurut jubir batan- murni ledakan gas dan tidak ada zat radioaktif yang digunakan di area tersebut. Meskipun begitu, instalasi yang meledak tersebut ternyata berjarak 337 meter dari pusat reaktor serbaguna. Hal ini lalu menjadi tanda tanya bagi banyak orang mengenai kesanggupan atau kapabilitas dari BATAN
sendiri. Memang tidak ada radiasi, dan reaktor pun aman dari ledakan, namun apakah jaminan bahwa ke depan kejadian serupa tidak terulang dengan konsekuensi yang lebih pesat? Tidak ada memang.
Saya sendiri sangat mendukung penggunaan nuklir sebagai sumber energi, namun lagi - lagi pihak BATAN sendiri perlu mengkaji ulang banyak dari prosedur maupun sistem secara keseluruhan untuk mencegah kejadian ini terulang kembali. Ketika Indonesia mengumumkan mengenai penggunaan nuklir sebagai sumber energi, banyak negara - negara tetangga yang secara spontan mengucurkan gelombang
protes menentangnya. Australia dan Malaysia mungkin 2 pihak yang paling ‘bersemangat’ dalam hal ini, dan tentu saja kekhawatiran mereka sangat beralasan. Sumber daya indonesia dalam hal ini diragukan ( baik dari SDM maupun teknologi ) yang jika terjadi kesalahan maka negara - negara tetangga akan jadi korban dan terkena imbasnya.
Saya pribadi sangat percaya kepada sumber daya manusia indonesia, banyak sekali orang - orang cerdas, berbakat, dan berdedikasi tinggi. Tinggal bagaimana pemerintah dapat memanfaatkan orang - orang ini untuk kepentingan kemajuan bangsa.
